Mengetahui bahwa, hidup di muka bumi ini secara alami terdapat musim yang silih berganti, dan bisa berbeda di setiap wilayah geografis, membuat aku —sebagai seseorang yang semakin passionate untuk belajar dari kehidupan— semakin menyadari bahwa…
Iya ya, di bumi ini segala sesuatunya datang silih berganti. Siang berganti dan dilanjutkan oleh malam, lalu malam berganti dan dilanjutkan oleh siang. Musim gugur berganti, dan diikuti atau dilanjutkan oleh musim dingin, yang kemudian jika musim dingin berakhir, selanjutnya berganti dan dilanjutkan oleh musim semi. Begitu seterusnya. Tidak pernah berhenti. Tidak stuck hanya di satu musim. Bahkan, tidak pernah tertukar antara satu dengan yang lainnya.
Maka, artinya, realita itu juga terjadi di hidupku, dan manusia yang lainnya. Mengalami suatu musim dimana berteman dengan sahabat kecil yang sudah selalu menemani sejak usia 3, lalu kemudian cerita menjadi begitu berbeda di usia 21. Atau, musim dimana, mengalami fase titik balik kehidupan yang seolah membuat hari-hari terasa tidak baik-baik saja bahkan hampir menyerah dan putus asa, kehilangan teman lama, atau bahkan lepasnya segala cerita dan kebahagiaan lama, namun semangat dalam jiwa terus berbisik untuk melanjutkan langkah dan berkata “hidupmu belum selesai. Mari kita lanjutkan lagi, bangkit lagi, dan kita telusuri gelap malam di musim dingin ini. Sesuatu yang jauh lebih baik, menantimu di ujung sana.”
Ya. Aku bisa mengerti bagaimana rasanya, karena aku juga mengalaminya, musim-musim itu. Aku yakin kamu juga, meski dengan nuansa yang cukup berbeda, but, you know what i mean. Ibarat kata, aku mengalami musim dingin yang hebat di daerah pegunungan, dan kamu mengalami rasa dingin di pantai. Ya, sesederhana itu. Ada momen juga dimana aku masih ragu dan kembali menanyakan “apakah yang aku tempuh ini sudah benar?” Ada momen dimana kembali muncul rasa buru-buru dan ingin segera mendapatkan jawaban saat itu juga, atau, memaksakan segala sesuatunya seperti pada mulanya —dengan kata lain, enggan menerima perubahan. Pengalaman-pengalaman manusiawi, namun juga tetap perlu diterima, dipelajari, dinavigasi, dan barangkali dibenahi —jika memang sudah selayaknya untuk dibenahi.

Sebagai seorang ibu dan juga sekaligus sebagai pejalan self healing serta bisnis, hal-hal ‘nekat’ dan seringkali dianggap sebagai sesuatu hal yang ‘tidak lumrah’ juga mulai aku peluk keseruannya. Momen-momen ketika sesuatu yang sebelumnya bekerja dengan baik, kemudian menemui masanya untuk berubah atau bahkan bertransformasi dan diperbarui, seringkali termanifestasi sebagai sesuatu yang tidak sesuai dengan ekspektasi (egoku). Jika tidak memahami dan menerima kebenaran tentang alur dan kapasitas diri, serta menyadari akan fitrah musim yang juga berganti, sudah pasti… aku masih terus mengikat diriku dengan cara-cara & pola pikir lama dan familiar.
Fase fase seperti ini… yang hanya butuh kita seorang diri yang menjalani dan melampaui. Musim gugur pada diriku, belum tentu menjadi musim gugur bagimu. It’s personal journey. Tapi, kita semua pasti mengalami fase-fase seperti itu. Fase-fase transisional yang tidak hanya sekedar perlu diketahui dan sadari, tapi juga mengajak kita untuk benar-benar berpartisipasi nyata di fase tersebut. Seperti pada musim gugur contohnya, ketika sang musim tiba, daun-daun di pepohonan berpartisipasi nyata untuk berguguran tanpa satupun yang tertinggal di dahan, jatuh dan menyatu dengan tanah tanpa resah, tanpa rasa bersalah dan juga sesal. Karena mereka tahu, dalam fase gugur ini, mereka sedang perlu mempersiapkan diri lebih matang, untuk fase musim selanjutnya yang lebih indah, yaitu musim dingin, lalu musim semi. Tanpa musim gugur, musim-musim selanjutnya tidak akan lahir.
Contohnya dalam hal memahami alur dan kapasitas diri dalam menavigasi dan berpartisipasi di setiap musim hidupku, aku menggunakan Solar Return Human Design. Tahun 2025-26 ku merupakan musim dingin bagiku, dimana dalam durasi tersebut, aku menavigasi energi sebagai Emosional Manifestor dengan vibes Gua (Cave), dan juga sebagai Monk (Biksu). Iya, ini metaforik. Tapi juga benar secara tema energi. Tentang bagaimana aku cenderung lebih craving waktu-waktu solitude lebih banyak, tidak terlalu ingin berada di lingkungan yang terlalu ramai dalam waktu lama bahkan sering, hingga bagaimana kemudian secara internal lebih mendorong untuk memelihara kedamaian batin. Mengetahui hal ini, membuat aku lebih terbuka untuk menerima bahkan menyambutnya tanpa komplain, dan bersedia untuk berpartisipasi. Tidak lagi denial meski kadang pikiranku masih bertanya “apa yang salah denganku?”, and i know the right answer.
Bisa dibayangkan, jika aku tidak mengetahui musimku dan dibantu dengan knowledge tentang menavigasi fase transisi lengkap dengan Chart Solar Return, sepertinya aku masih akan autopilot memaksa diriku terus overwork dengan cara yang lama, yang kemudian berakhir pada burn out berbulan-bulan.
Dari sini, aku, dan kita semua, bisa semakin belajar bahwa… perubahan itu tidak terelakkan. Kita semua tahu itu. Pertanyaan selanjutnya :
- sudahkah kamu mengetahui dan terbuka atas perubahan yang selayaknya terjadi dalam hidupmu?
- Bersediakah kamu menyambut perubahan itu, bahkan berpartisipasi secara nyata atas perubahan itu sendiri?
Karena, masih banyak orang yang hanya mau berubah, ketika perubahan itu adalah sesuai dengan ekspektasi (ego) mereka, yaitu lebih bahagia, lebih kaya, lebih sukses, tapi enggan untuk berpatisipasi nyata terhadap perubahan itu. Ibarat kata, hanya satu kaki yang jalan. Kebenarannya, perubahan —atau mari kita sebut dengan transformasi hidup itu, tidak bisa setengah-setengah.
Kalau mau atau YA, katakan YA lalu lompat dengan dua kaki.
Kalau enggak, silakan tetap tinggal di tempat.
Keduanya sama sama memiliki konsekuensinya masing-masing.

Maka, kebenaran bahwa diri kita mengandung elemen kehidupan, yang juga merupakan bukti bahwa, hidup kita merupakan alam semesta kecil yang dikelilingi oleh alam semesta yang jauh lebih luas dan besar, artinya, setiap diri kita juga memiliki musimnya. Dan kebenaran lainnya, tidak ada yang lebih baik atau lebih buruk dari musim itu. Setiap musim adalah baik dan memiliki tujuannya masing-masing. Selanjutnya adalah, bersediakah kita menerima pergantian atau ritme musim yang memang sedang bergulir dalam hidup kita saat ini dan sepenuhnya berpartisipasi nyata dalam menghidupi dan menavigasinya?
Sebagaimana kita tahu, bahwa pergantian antara musim satu dengan yang lainnya terkadang terjadi dengan tidak terduga bahkan tidak nyaman. Sebagai manusia yang dikaruniai emosi, mental dan spiritual, hal ini tidak jarang termanifestasi ke berbagai gejala seperti kewalahan yang sangat, anxiety, stress, tidak semangat menjalani hidup, hingga depresi.
Maka, keterampilan menavigasi fase transisi menjasi life skill yang sangat esensial untuk terus dilatih dan dibangun, minimal dalam kehidupan personal, yang kemudian bisa terus dikembangkan dalam kehidupan relasi dengan keluarga bahkan profesional.
[Kursus yang bisa kamu ambil dan pelajari : Menavigasi Fase Transisi]

Responses